Kisah Inspiratif, Topi Hitam Dan Topi Putih

Sekedar copas dari pesan di facebook bapak yang dikirim oleh saudara yang tinggal di Jogja. Cerita inspiratif tentang seorang anak tunggal yang ditinggal mati ibunya. Dia hidup sama ayahnya yang sangat sibuk bekerja. Langsung ke ceritanya.

topihitamputih

Ada seorang anak cowok tunggal yang ditinggal mati ibunya saat melahirkan dia. Sejak saat itu, ayahnya menjadi sangat workaholic dan tidak menikah lagi. Anak ini tumbuh menjadi orang yang baik hati dan penyayang walaupun cuma diurus oleh pengasuh.

Saat masih TK, sementara anak-anak lain sudah punya sepeda, dia tidak punya sendiri. Pengasuhnya memberitahukan ini ke ayahnya. “Tuan, apa nggak kasihan sama den Bagus? Masa sepeda aja nggak punya, apa tuan juga nggak malu?”

Ayahnya sebagai orang yang kaya, memiliki sekian banyak perusahaan, maka dipanggilnya si anak dan ditawari, mau sepeda yang seperti apa dan merek apa. Tapi si anak cuma bilang.

“Aku nggak mau sepeda Yah, aku dibeliin topi hitam dan topi putih saja..”
”Lho kok begitu?” Ayahnya bingung. “Kenapa topi hitam dan putih?”
“Nggak apa apa sih Yah. Kalo Ayah punya uang yaa, beliin itu saja.”

Mengingat mereka nggak pernah ngobrol, dan si anak juga masih TK, ayahnya berpikir biasa saja atas permintaan si anak yang minta dibeliin topi Hitam dan topi putih. Nggak berminat melanjutkan pembicaraan, si Ayah tetap membelikan sepeda generasi terbaru saat itu, yang paling canggih, sama topi hitam dan topi putih.

Kemudian si anak masuk SD. Saat itu musim sepatu roda, sekian lama sang pengasuh memperhatikan, kenapa ini anak nggak minta dibeliin sepatu roda sama Ayahnya. Sore-sore cuma duduk aja, sepedanya juga ditaruh di gudang. Lagi nggak musim, katanya. Pengasuhnya melaporkan pandangan matanya ke tuannya hingga si anak dipanggil lagi.

“Nak, kamu mau dibeliin sepatu roda kayak teman-teman kamu? Kok nggak bilang-bilang ayah. Nggak masalah kalau cuma beli sepatu roda saja”.
si anak kemudian menjawab “Nggak Yah, topi hitam dan topi putih saya sudah rusak, beliin lagi saja nggak usah beli sepatu roda, lagian lebih murah topi kan Yah?”

Si ayah geram karena anaknya meremehkan orang tuanya sendiri, atau sok merendah?

Tetap saja si ayah membeli sepatu roda, sama topi hitam dan topi putih. Selang beberapa taun, si anak masuk SMP. Cerita sama terulang. Sekarang teman-temannya musim roller blade. Trend baru, sementara sore hari, dia masih setia sama sepatu rodanya. Pas Ayahnya pulang dari luar negeri dan melihat hanya anaknya yang pakai sepatu roda.

Si ayah malu banget. Apa kata orang, rumah gedong, perusahaan banyak, keluar negeri terus, eh anaknya ketinggalan jaman. Besoknya, di kamar anaknya udah ada sepasang roller blade baru dengan meninggalkan catatan: “Biar kamu nggak malu nak”.

Malamnya di ruang kerjanya si ayah ada catatan balasan: “Yah, kok nggak beliin topi hitam dan topi putih? Aku lebih suka itu.” Si ayah pas liat catatan itu dongkol dan tambah bingung. Apa sih istimewanya topi hitam dan topi putih? Emang bisa bikin dia keren?

Besoknya dan besoknya lagi si ayah berkali-kali nemuin catatan itu. Hingga dia nggak tahan dan membelikan anaknya topi hitam dan topi putih untuk kesekian kalinya. Dan benar, setelah dapet si anak nggak ninggalin catatan-catatan lagi buat ayahnya.

Ketika SMA, yang jaraknya lumayan jauh, si anak masih naik bis umum, sedangkan teman-temannya sudah ada yang bawa motor dan mobil ke sekolah. Suatu hari si ayah ada di rumah, si anak pulang dianterin temannya yang naik mobil. si ayah malu banget, masa cuma untuk anak satu nggak bisa beliin mobil? Maka ditawarin anaknya untuk membeli mobil. Si anak nolak dengan alasan mobil kurang praktis, lagian pengen topi hitam dan topi putih aja.

Si ayah nggak terima penolakan. Karna anaknya udah gede, akhirnya mereka berunding. Hingga tercetus keputusan si anak dibeliin motor plus topi hitam dan topi putih tentunya. Dan si Ayah kesel, sudah beberapa tahun dia beberapa kali minta dibeliin dua macem topi itu tanpa tau kenapa. Tapi si anak sedikitpun tidak ada keinginan dan kemauan untuk memberi tahu alasannya.

Hingga tibalah masa kuliah. Karna senang dan bangga masuk PTN, si anak dihadiahkan sebuah mobil. Namun sampai beberapa bulan si anak masih naik motornya saja. Kuliah, pergi sama teman, naek motor saja. Temannya juga bingung, kan dia punya mobil? Jika ditanya teman-temannya, selalu dijawab, habis ayah nggak beliin topi hitam topi putih. Nggak ngerti anak sendiri sih!

Pas ada acara makan malam bersama, temannya bilang sama si Ayah, kenapa si om nggak beliin topi hitam dan topi putih. Si ayah sebenernya sensitif sama para topi itu. Huh…sampe temannya nyuruh-nyuruh, akhirnya dia tanya balik ke temannya kenapa bertanya seperti itu. Temannya bilang kalo mobilnya nggak akan dipakai selama nggak dikasih topi itu. Si ayah bingung, di kamar anaknya udah segitu banyak topi hitam dan topi putih. Buat apa sih, pikirnya. Tapi demi gengsi maka besoknya topi hitam dan topi putih tersedia buat anaknya.

Suatu hari anaknya ke Puncak naik mobil sama teman-temannya. Namanya anak muda, di dalam mobil malah asyik bercanda. Karena kurang konsentraasi dan kecelakaanpun terjadi. Segera setelah di bawa ke rumah sakit, si ayah ditelepon oleh pihak rumah sakit. Kecelakaannya parah, si anak dan beberapa temannya luka parah karena tidak memakai sabuk pengaman.

Si ayah datang dan bertanya ke dokter yang menangani anaknya “Bagaimana dok keadaan anak saya?”
Dokter (dengan empati penuh duka cita) menjawab pertanyaan si ayah. “Maaf pak, kami tidak dapat berbuat banyak. Sepertinya memang sudah waktunya, sebaiknya bapak manfaatkan waktu yang ada”
Perlahan si ayah masuk menemui anaknya. “Ayah, maafin aku, nggak hati-hati nyetir mobilnya” kata si anak dengan suara terbata-bata sambil menangis karena mengetahui beberapa temannya tidak tertolong.

Si ayah nenangin dia, dan terjadilah keakraban mereka untuk beberapa saat. Hingga si ayah beranggapan ini saat terakhir. Dia ingat dan penasaran tentang kenapa si anak selama ini selalu minta topi hitam dan topi putih. “Nak, maafin ayah yang selama ini yang selalu sibuk, kamu jadi kesepian,maafin ayah nak. Tidak sempat menjadi orang tua yang baik.” si anak menjawab,”Nggak apa-apa Yah, aku ngerti kok. Cuma sempat sebel aja kalo ayah punya uang lebih malah beliin yang macam-macam, aku cuma minta topi hitam dan topi putih saja kan?”

Si Ayah merasa inilah saat yang tepat untuk bertanya kenapa anaknya selalu meminta topi hitam dan topi putih tersebut.

“Kenapa sih kamu suka minta topi hitam dan topi putih? ada apa dengan topi-topi itu?”

Si anak menjawab dengan terpatah-patah dan dengan susah payah mencoba menjawab

“sebab…. aku……”
*heept….* suasana tiba-tiba hening

Kepala si anak rebah dan nafasnya hilang. Si anak sudah meninggal sebelum memberi tahu alasan kenapa dia selalu menginginkan topi hitam dan topi putih itu.

***************
Ingin tahu kenapa si anak selalu menginginkan topi hitam dan topi putih? Nah, si Ayah yang sudah hidup bareng anaknya saja nggak tahu, apalagi aku yang cuma copas dari pesan di facebook? 😛

Gimana? sebel ga? Cemberutin saja yang pertama kali cerita, tapi maafin yang meneruskan. karena aku juga korban. 😥

Nggak enak lho jadi korban sendirian. Maaf ya om dan tante, salam senyum 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s