Kuliner Ekstrim Dari Gunungkidul

Buka-buka foto lama nemu foto saat aku lagi makan belalang goreng. Mungkin saat itu aku masih TK atau mungkin SD kelas 1 di Bandung, kelihatan dari pipiku yang masih cabi alias tembem. Sekarang juga masih cabi, tapi nggak terlalu. ­čśŤ

Belalang goreng itu dibeli bapak waktu pulang ke Gunungkidul, saat itu aku nggak ikut karena nggak libur sekolah. Bapak membelinya bukan di toko oleh-oleh, tapi di penjual pinggir jalan di daerah Mijahan (kalau ga salah). Belalang gorengnya dikemas dengan toples mika ukuran sedang (toples mika ukuran kue lebaran) dengan rasa pedas dan original. Kata bapak 1 toples ditawarkan dengan harga Rp.25.000,-. Karena bapak beli 2, sama penjualnya di diskon Rp.5.000,-. Oleh-oleh buat aku sama ibu katanya.

setelah dibersihkan kaki-kaki belalangnya

belalang goreng pedas

Bapak menyarankan untuk mencopot kaki-kaki dan suthang (kaki bagian belakang)┬ásebelum dimakan, karena untuk yang pemula kalau ngunyahnya kurang lembut bisa nyangkut dan bikin kesedak, karena ada duri-duri kecilnya. Bismillah..dan aku mencoba makan satu dulu. Karena untuk sebagian orang yang baru pertama kali┬ámengkonsumsi belalang bisa gatal-gatal alias biduran. Karena tidak ada reaksi biduran, akhirnya aku lanjut makan belalang goreng sama bapak dan ibu sambil minum teh hangat. Yummy… ­čśÇ

Bubur Mbah Sri, Menu Sarapan Murah Meriah

Ngomongin makanan lagi. Seperti yang pernah aku ulas disini, tentang sarapan pagi yang dibuatkan sama bapak. Kali ini ngomongin sarapan pagi dengan harga murah meriah dan yang pasti enak. Sudah menjadi kebiasaan bapak kalau mudik pasti membeli sarapan di tempat mbah Sri, neneknya Toni temanku. Meskipun tidak setiap hari.

bubur mbah Sri + gorengan

Kenapa aku bilang murah meriah? Karena hanya dengan uang Rp.2000,- sudah bisa menyantap bubur yang enak dengan sayur tahu kuah yang gurih (bisa juga memilih sayur tahu tempe cabe hijau yang pedas atau campuran keduanya) ditambah 1 tempe kemul dan 1 tahu susur, menjadi pelengkap untuk menikmati bubur. Harga buburnya Rp.1000,- dan gorengannya Rp.500,-/pcs. Opo ora murah tenan nek koyo ngono kuwi, dengan porsi bubur yang lumayan bikin kenyang. Tambah mantab lagi karena dibungkus dengan daun pisang. Nyam..nyam.

 

Ngungsi Nonton TV Ke Tempat Mak’e (Nenek)

Alhamdulillah…UTS (Ulangan Tengah Semester) sudah selesai, mudah-mudahan nilainya┬ámemuaskan. Dan seperti biasa, kalau adik Rafif lagi tidur atau sedang digendong sama ibu, aku nonton acara TV sabil tiduran. Tapi sudah seminggu ini sinyal TV di rumahku tiba-tiba hilang, ada beberapa chanel yang hilang kemudian ada lagi. Oh iya, dikampungku setiap rumah memakai antena parabola karena kalau cuma pakai antena UHF biasa tidak bisa alias tidak ada saluran yang terlihat, kalau kata bapak “kepyur” banyak semutnya. ­čśÇ

Sekarang kalau mau nonton TV ngungsi dulu ke tempat mak’e (nenek). Untung rumahnya cuma sebelahan, beberapa langkah saja dan aku bisa nonton acara kesukaanku. Satu lagi yang paling aku suka, kadang mak’e masak mie telur kuah, dan aku pun bisa menikmati acara TV sambil makan. Nyam nyam. ­čśÇ

Sudah UTS (Ulangan Tengah Semester) Lagi

Hari kamis tgl 3 Maret 2016 kemarin, ibu Reni wali kelasku membagikan selebaran jadwal UTS (Ulangan Tengah Semester) Genap kepada kami. UTS dimulai hari senin tgl 7 Maret 2016. Perasaan cepat banget, udah ujian lagi. Berarti beberapa bulan lagi UKK (Ujian Kenaikan Kelas). Kok jadi dag dig dug ya. ­čśÇ

Kata ibu jangan dibikin pusing. Rileks saja, yang penting belajar dan tidak lupa berdoa. Dan seperti biasa, acara nonton TV sekarang dibatasi lagi. Semoga aku bisa mengerjakan soal-soal UTS besok dengan benar dan mudah sehingga mendapat nilai bagus. Aamiin.

Gantiin Ibu Gendong Adik Rafif

Dua minggu terakhir ini aku sering gendong adik Rafif. Kadang sore hari saat gerimis dan aku tidak pergi mengaji, dan yang pasti saat hari minggu. Aku tidak langsung mengangkat dan menggendong sendiri adikku, tapi dibantu sama ibu. Setelah mengalungkan selendang ke pundak kanan dan menyilangkan ke tangan kiriku, baru kemudian adik Rafif di tidurkan sama ibu di selendang yang aku tahan dengan tangan kiriku. Seletah itu ibu menalikan ikatan selendang di pundak kananku, biar tidak melorot. Tidak lupa bantal kecil untuk menyangga leher dan kepala adikku. Saat aku gendong, adik Rafif senyum dan bersuara ngajak ngomong, dan aku ikutin aja suara yang keluar dari mulutnya. Pokoknya kayak mau ngajak ngobrol gitu.

gendong adik Rafif

gendong adik Rafif

Baru beberapa menit aku gendong, tiba-tiba aku merasakan rasa hangat diperutku. Benar saja, adikku yang gundul ini ngompol. Spontan aku ngomong “Eee..ha ngewer” (Eee..pipis lagi), seperti kata Mak’e (nenekku) saat adik Rafif ngompol digendongannya. ┬áIbu membantu melepaskan ikatan selendang dan mengganti popok adikku, sementara itu aku ganti baju dan mengambil selendang lain untuk gendong adik Rafif lagi. Senang rasanya bisa bantu ibu gendong adik, biarpun sering diompoli.