[Intermezzo] Adik Rafif Makan Kabel

Pada suatu hari adik Rafif main ke rumah mak’e (nenek). Adik Rafif merangkak ke ruang tengah, tiba-tiba dia mempercepat gerakan merangkaknya. Sampai di depan pintu kamar adik menemukan potongan kabel warna hitam. Nampaknya dia begitu senang, dan langsung “mlengeh” alias senyum senang.

mlengeh nemu kabel

mlengeh nemu kabel

Setelah dipegang dan senyum-senyum sendiri, adik mulai memperhatikan sekitar. Adik ngelihatin kita yang lagi duduk dan pura-pura cuek dengan tingkah laku adik. Mungkin adik berfikir “ada yang ngelarang gak ya kalau aku makan”.

memperhatikan sekitar

memperhatikan sekitar

Dan tanpa ragu adik langsung memasukkan kabel warna hitam itu kemulutnya. Digigit-gigit dengan gusinya, iya dengan gusi karena adik belum tumbuh gigi. Kita cuma tertawa saja melihatnya. 😆

makan kabel

makan kabel

Tamat.

Advertisements

Boneka Balon Upin Dan Ipin

Mudik kemarin ini, selain membawa sepeda BMX senator buat aku, bapak juga membawa boneka balon Upin dan Ipin untuk adik Rafif. Kata bapak boneka balon Upin & Ipin belinya di Sukajadi Bandung, dekat mall Paris Van Java. Harga sepasangnya Rp 40.000,- dan bapak membeli yang belum dipompa alias masih dilipat. Baru setelah sampai di Temanggung di pompa sama bapak pakai mulut alias ditiup. 😀

boneka balon upin dan ipin

boneka balon upin dan ipin

Boneka balon Upin & Ipin kalau dipencet bunyi ngikngik, dan adik pun tersenyum dengan mainan barunya.

Lungsuran Sepeda Roda Tiga Untuk Adik Rafif

Lungsuran, barang bekas yang masih layak pakai. Beberapa bulan yang lalu saat bapak ada di rumah, bapak bongkar gudang mencari sepeda roda tiga punyaku dulu saat aku masih kecil. Kondisinya masih lumayan bagus, cuma ada bagian yang patah dan perlu dilas juga ada beberapa yang sudah karatan. Kata bapak masih bisa diperbaiki, bisa di lungsurin ke adik Rafif. Sedikit perbaikan lebih hemat daripada beli baru lagi. Sayang, saat mulai dibersihin, dicat ulang (pipa besi tadinya warna abu-abu sekarang jadi warna hitam doff dengan cat semprot) kemudian dirangkai lagi sama bapak aku lagi sekolah. Jadi nggak sempat ambil gambar.

Sejak bulan kemarin, masuk umur 6 bulan adik Rafif sudah mulai belajar duduk. Sebelumnya sudah merangkak ngesot kayak tentara jalan tiarap dengan tangan seperti yang aku lihat di TV. Awal bulan agustus ini adikku sudah sempurna posisi duduknya, bahkan sudah bisa merangkak juga.

sepeda lungsuran dariku

sepeda lungsuran dariku

Karena duduknya sudah kuat nggak roboh dan miring-miring lagi, sekarang adikku jadi sering minta naik sepeda lungsuran dari aku. Sepeda roda tiga ini ada pengaman dan pegangan untuk adik, juga ada pegangan di belakang yang berfungsi untuk mendorong dan membelokkan stang karena ada pengait besi dibawahnya. Jadi adik Rafif tinggal duduk manis sementara aku dan ibu gantian olahraga jalan kaki muterin rumah dan halaman sambil dorong sepeda.

Kadang kalau kita berhenti dorongnya, adik minta jalan lagi dengan kode teriak dan menjerit. Capek deh…

Adik Rafif Mulai Belajar Tengkurap

Sudah 3 bulan lebih 4 hari usia adikku, dan sudah mulai cerewet bahkan pernah menjerit keras sekali sampai-sampai aku, ibu dan pak’e (kakek) yang lagi nungguin adik waktu itu jadi kaget. Bener-bener nggak nyangka bisa menjerit keras banget. Sejak akhir bulan Februari kemarin adik Rafif sudah mulai memiringkan tubuhnya ke arah kiri. Kata ibu itu tanda-tanda kalau adikku mau tengkurap, biasanya dimulai dari umur 3 bulan sampai 6 bulan.

Adik Rafif benar-benar lucu, saat miring pasti ngoceh cerewet. Trus kalau kelamaan miring dan nggak bisa tengkurep akan menjerit keras, mungkin marah atau jengkel karena nggak bisa tengkurap. Aku yang nungguin cuma ketawa saja. Kalau lama nggak ditolongin sama ibu saat capek posisi miring, adikku akan pura-pura nangis. Kata ibu mirip aku waktu kecil dulu, suka pura-pura nangis untuk mencari perhatian. 😀

miring terus tengkurap

miring terus tengkurap

Paling ngegemesin lagi kalau sudah tengkurap, dan nggak bisa balik miring lagi. Karena lehernya belum kuat untuk mengangkat kepalanya, adikku akan teriak alias menjerit. Kalau sudah begitu aku nggak berani balikin badan dik Rafif, harus teriak manggil ibu kalau ibu sedang di dapur atau angkat jemuran. Biar segera menolong dik Rafif agar nggak jerit-jerit kencang. Bahagianya punya adik.

Ngungsi Nonton TV Ke Tempat Mak’e (Nenek)

Alhamdulillah…UTS (Ulangan Tengah Semester) sudah selesai, mudah-mudahan nilainya memuaskan. Dan seperti biasa, kalau adik Rafif lagi tidur atau sedang digendong sama ibu, aku nonton acara TV sabil tiduran. Tapi sudah seminggu ini sinyal TV di rumahku tiba-tiba hilang, ada beberapa chanel yang hilang kemudian ada lagi. Oh iya, dikampungku setiap rumah memakai antena parabola karena kalau cuma pakai antena UHF biasa tidak bisa alias tidak ada saluran yang terlihat, kalau kata bapak “kepyur” banyak semutnya. 😀

Sekarang kalau mau nonton TV ngungsi dulu ke tempat mak’e (nenek). Untung rumahnya cuma sebelahan, beberapa langkah saja dan aku bisa nonton acara kesukaanku. Satu lagi yang paling aku suka, kadang mak’e masak mie telur kuah, dan aku pun bisa menikmati acara TV sambil makan. Nyam nyam. 😀

Gantiin Ibu Gendong Adik Rafif

Dua minggu terakhir ini aku sering gendong adik Rafif. Kadang sore hari saat gerimis dan aku tidak pergi mengaji, dan yang pasti saat hari minggu. Aku tidak langsung mengangkat dan menggendong sendiri adikku, tapi dibantu sama ibu. Setelah mengalungkan selendang ke pundak kanan dan menyilangkan ke tangan kiriku, baru kemudian adik Rafif di tidurkan sama ibu di selendang yang aku tahan dengan tangan kiriku. Seletah itu ibu menalikan ikatan selendang di pundak kananku, biar tidak melorot. Tidak lupa bantal kecil untuk menyangga leher dan kepala adikku. Saat aku gendong, adik Rafif senyum dan bersuara ngajak ngomong, dan aku ikutin aja suara yang keluar dari mulutnya. Pokoknya kayak mau ngajak ngobrol gitu.

gendong adik Rafif

gendong adik Rafif

Baru beberapa menit aku gendong, tiba-tiba aku merasakan rasa hangat diperutku. Benar saja, adikku yang gundul ini ngompol. Spontan aku ngomong “Eee..ha ngewer” (Eee..pipis lagi), seperti kata Mak’e (nenekku) saat adik Rafif ngompol digendongannya.  Ibu membantu melepaskan ikatan selendang dan mengganti popok adikku, sementara itu aku ganti baju dan mengambil selendang lain untuk gendong adik Rafif lagi. Senang rasanya bisa bantu ibu gendong adik, biarpun sering diompoli.