Mangga Yang Nikmat

“Bu, Mas Anto dan teman-temannya mau mencuri mangga di kebun Pak Jono!” lapor Nano kepada ibunya.
“Ha?! Dari mana kamu tahu?”
Mereka membicarakannya di belakang. Saya sedang di sumur. Saya dengar semua pembicaraan mereka. Mereka sedang ke sana sekarang.”
“Oh!” Ibu menggeleng-gelengkan kepala. “Ehm, Nano….”
Ibu membisikkan sesuatu kepada Nano. Kemudian, terlihat Nano tersenyum berseri.
Nano segera melesat lari menyusul kakaknya. Ya, untung mereka belum amat jauh berjalan.
“Maaas, Mas Anto! Tunggu!”
Keempat bocah laki-laki itu menoleh.
“Mas, kamu dipanggil Ibu. Ibu perlu bantuanmu.”
“Lho, ‘kan ada kamu. Masa kamu tidak bisa membantu.”
“Aku sedang disuruh membeli gula. Weeek! Cepat sana! Ibu menunggu!”
Anto mau menjitak kepala adiknya. Tapi Nano gesit dan berhasil menghindar. Sempat pula menjulurkan lidah, mengejek kakaknya.
“Huh, sial! Tunggu sebentar, ya. Bisa-bisa diomeli, dan dikurung tidak boleh main kalau menolak.”
Anto bergegas kembali ke rumah.
Tak lama kemudian, ia sudah berlari-lari lagi menjumpai teman-temannya. Mukanya bersungut-sungut.
“Sialan! Setan kecil itu cuma bohong. Ibu tidak memanggilku.”
“Kamu juga suka membohonginya. Sekarang dibalas. Hahaha,” ejek Yadi, temannya yang berkulit hitam.
Mereka segera menuju ke kebun Pak Jono.
Pada musim buah seperti ini, kebun Pak Jono sangatlah menggiurkan. Pepohonan mangga sarat dengan buah. Bila sudah mulai ranum, uh mengundang air liur.

Continue reading