Kuliner Ekstrim Dari Gunungkidul

Buka-buka foto lama nemu foto saat aku lagi makan belalang goreng. Mungkin saat itu aku masih TK atau mungkin SD kelas 1 di Bandung, kelihatan dari pipiku yang masih cabi alias tembem. Sekarang juga masih cabi, tapi nggak terlalu. 😛

Belalang goreng itu dibeli bapak waktu pulang ke Gunungkidul, saat itu aku nggak ikut karena nggak libur sekolah. Bapak membelinya bukan di toko oleh-oleh, tapi di penjual pinggir jalan di daerah Mijahan (kalau ga salah). Belalang gorengnya dikemas dengan toples mika ukuran sedang (toples mika ukuran kue lebaran) dengan rasa pedas dan original. Kata bapak 1 toples ditawarkan dengan harga Rp.25.000,-. Karena bapak beli 2, sama penjualnya di diskon Rp.5.000,-. Oleh-oleh buat aku sama ibu katanya.

setelah dibersihkan kaki-kaki belalangnya

belalang goreng pedas

Bapak menyarankan untuk mencopot kaki-kaki dan suthang (kaki bagian belakang) sebelum dimakan, karena untuk yang pemula kalau ngunyahnya kurang lembut bisa nyangkut dan bikin kesedak, karena ada duri-duri kecilnya. Bismillah..dan aku mencoba makan satu dulu. Karena untuk sebagian orang yang baru pertama kali mengkonsumsi belalang bisa gatal-gatal alias biduran. Karena tidak ada reaksi biduran, akhirnya aku lanjut makan belalang goreng sama bapak dan ibu sambil minum teh hangat. Yummy… 😀

Advertisements

Ngungsi Nonton TV Ke Tempat Mak’e (Nenek)

Alhamdulillah…UTS (Ulangan Tengah Semester) sudah selesai, mudah-mudahan nilainya memuaskan. Dan seperti biasa, kalau adik Rafif lagi tidur atau sedang digendong sama ibu, aku nonton acara TV sabil tiduran. Tapi sudah seminggu ini sinyal TV di rumahku tiba-tiba hilang, ada beberapa chanel yang hilang kemudian ada lagi. Oh iya, dikampungku setiap rumah memakai antena parabola karena kalau cuma pakai antena UHF biasa tidak bisa alias tidak ada saluran yang terlihat, kalau kata bapak “kepyur” banyak semutnya. 😀

Sekarang kalau mau nonton TV ngungsi dulu ke tempat mak’e (nenek). Untung rumahnya cuma sebelahan, beberapa langkah saja dan aku bisa nonton acara kesukaanku. Satu lagi yang paling aku suka, kadang mak’e masak mie telur kuah, dan aku pun bisa menikmati acara TV sambil makan. Nyam nyam. 😀

Cara Ibu Mengusir Lalat Di Dapur Secara Alami

Hari ini pulang sekolah cuaca panas, aku ngerasa gerah dan haus sekali. Sebelum sampai rumah aku belok ke warung untuk membeli es lilin, karena bekal air minumku susah habis. Cess…tenggorokan jadi dingin, seger bener. 😀

Sampai rumah seperti biasa setelah salam sama ibu aku langsung menuju dapur, membuka tudung saji di meja makan. Sekedar ngecek masak apa ibu hari ini. Baru kemudian ganti baju, cuci tangan lanjut makan.

daun jeruk dan daun pandan pengusir lalat

daun jeruk dan daun pandan pengusir lalat

Hari ini di dapur tercium wangi semerbak daun jeruk dan daun pandan. Saat aku tanya ibu, ternyata tadi pagi saat ibu mau masak didapur banyak lalat. Kemudian ibu memetik beberapa lembar daun jeruk dan daun pandan yang berada Continue reading

Fakta Keren Tentang Sumatera (5)

Ada yang pernah makan Pagit-pagit atau Terites? namanya asing ya, tapi tidak untuk masyarakat Karo di Sumatera Utara.

Terites adalah jenis kuliner yang berbentuk sup dan kuah berwarna coklat (biasa juga disebut soto karo) karena berbahan dasar isi perut (rumput yang separuh dicerna) sapi sebelum mengalami proses pemamahbiakan selanjutnya. Bahan tersebut (kaldu isi perut) kemudian ditambahkan bumbu rempah, daging dan daun singkong.

pagit-pagit, terites atau soto karo

pagit-pagit, terites atau soto karo

Terites bisa di bilang kuliner spesial, bukan hanya karena bahan yang di gunakan tetapi juga karena terites hanya di sajikan waktu acara tertentu, saat pesta besar seperti Merdang Merdem (Pesta Panen Tahunan) atau membuat rumah baru. Walaupun masakan ini terasa aneh, ternyata makanan ini di percaya bisa menyembuhkan Continue reading

Sarapan Pagi Ini, Tahu Kupat Ala (Chef Ibu) Temanggung

Pagi ini bapak sudah sibuk membantu ibu di dapur untuk membuat sarapan. Seperti biasa aku membantu memberi semangat saja saat bapak menghaluskan kacang tanah yang sudah digoreng menggunakan ulekan di cobek kecil. Sebenarnya ibu tadi menyuruh bapak menghaluskan kacang menggunakan blender biar cepat, tapi bapak memilih menggunakan ulekan saja. Sedangkan ibu sibuk memotong tahu putih untuk digoreng dan memasak air untuk merendam touge (kecambah kacang hijau) dan sayur kol yang sudah dipotong-potong.

di uleg, di potong, di rendam

di uleg, di potong, di rendam

Setelah selesai menghaluskan kacang goreng, bapak kemudian menghaluskan bumbu. Bumbu yang dihaluskan adalah cabai merah, bawang putih, gula aren dan sedikit garam. Setelah bumbu halus kemudian dicampur dengan kacang goreng yang sudah dihaluskan tadi. Setelah itu ditaruh di mangkok lalu disiram dengan Continue reading

Ampo, Camilan Khas Dari Tuban

Beberapa hari yang lalu aku menonton acara Si Bolang (Bocah Petualang) di salah satu stasiun TV swasta. Saat itu megisahkan tentang Si Bolang dari Jawa Timur, tepatnya daerah Tuban. Acaranya seperti biasa, tentang kegiatan meraka sehari-hari. Dan salah satu kegiatan mereka yang membuat aku heran adalah saat mereka membantu mengolah tanah liat untuk dijadikan camilan, namanya ampo. Aneh kan? tanah kok dimakan, rasanya gimana ya? Jadi penasaran.

Ampo adalah makanan yang terbuat dari tanah liat (orang setempat menyebutnya lempung) tanpa ada campuran bahan lain. Biasa dikonsumsi sebagai makanan ringan atau camilan. Masyarakat setempat percaya, bahwa dengan mengkonsumsi ampo dapat menguatkan sistem pencernaan, juga sebagai obat yang dapat mengobati beberapa macam penyakit. Bahkan wanita yang sedang hamil juga gemar makan camilan ini.

diuleni terus diserut

diuleni terus diserut

Cara membuat ampo kelihatannya sangat mudah. Tanah yang digunakan sebagai bahan baku membuat ampo tidak boleh sembarangan, melainkan harus berjenis tanah liat yang Continue reading