Nonton Pawai Drumband Di Alun-Alun Temanggung

Pagi tadi aku, ibu dan adik pergi ke alun-alun Temanggung untuk nonton pawai drumband di alun-alun Temanggung. Acara nonton ini sudah aku rencanakan dari kemarin. Hari minggu kali ini pokoknya harus bangun pagi terus pergi ke alun-alun Temanggung. Acara ini merupakan salah satu agenda Pesta Rakyat Hari Jadi ke 182 Kabupaten Temanggung. Aku, ibu dan adik Rafif naik angkot menuju ke Temanggung, turun di rolikuran terus lanjut jalan kaki menuju alun-alun yang lumayan jauh. Sekalian olahraga pagi, biar sehat.

Sampai disana pukul 09 lebih, dan acara sudah mulai. Kita jalan menuju pendopo dan berdiri di trotoar bersama dengan warga Temanggung yang lain. Acaranya meriah, cuaca cerah dan adik Rafif juga kelihatan senang banget dari yang jejeritan teriak nggak jelas sampai ndomblong lihatin drumband.

nonton pawai drumband di alun-alun temanggung

nonton pawai drumband di alun-alun temanggung

Saat jeda iring-iringan drumband, aku dan ibu istirahat dibawah pohon beringin, dan kebetulan disana ada yang jualan pempek. Akhirnya aku dan ibu pesen pempek sementara adik Rafif tertidur pulas, capek teriak-teriak kayaknya, eh..sudah jadwalnya tidur juga sih. Saat selesai makan dan duduk santai, mas Malvin saudaraku datang sama ortunya. Ketemu juga akhirnya, katanya mereka tadi nonton di sebelah timur alun-alun.

Setelah selesai pawai yang kedua aku dan ibu beranjak untuk pulang, tapi sebelumnya mampir ke swalayan dulu untuk beli diaper alias popok sekali pakai buat adik Rafif. Ortu mas Malvin menawarkan untuk pulang bareng. Asyik…dapat tumpangan gratis (makasih dhe Yuli dan dhe Lina tumpangannya), dan setengah jam kemudian aku sudah sampai di rumah.

Advertisements

Gantiin Ibu Gendong Adik Rafif

Dua minggu terakhir ini aku sering gendong adik Rafif. Kadang sore hari saat gerimis dan aku tidak pergi mengaji, dan yang pasti saat hari minggu. Aku tidak langsung mengangkat dan menggendong sendiri adikku, tapi dibantu sama ibu. Setelah mengalungkan selendang ke pundak kanan dan menyilangkan ke tangan kiriku, baru kemudian adik Rafif di tidurkan sama ibu di selendang yang aku tahan dengan tangan kiriku. Seletah itu ibu menalikan ikatan selendang di pundak kananku, biar tidak melorot. Tidak lupa bantal kecil untuk menyangga leher dan kepala adikku. Saat aku gendong, adik Rafif senyum dan bersuara ngajak ngomong, dan aku ikutin aja suara yang keluar dari mulutnya. Pokoknya kayak mau ngajak ngobrol gitu.

gendong adik Rafif

gendong adik Rafif

Baru beberapa menit aku gendong, tiba-tiba aku merasakan rasa hangat diperutku. Benar saja, adikku yang gundul ini ngompol. Spontan aku ngomong “Eee..ha ngewer” (Eee..pipis lagi), seperti kata Mak’e (nenekku) saat adik Rafif ngompol digendongannya. ¬†Ibu membantu melepaskan ikatan selendang dan mengganti popok adikku, sementara itu aku ganti baju dan mengambil selendang lain untuk gendong adik Rafif lagi. Senang rasanya bisa bantu ibu gendong adik, biarpun sering diompoli.