Sendiri Melawan Hantu

Guntur tidak percaya kalau rumah kosong di sebelah rumahnya berhantu. Rumah itu sudah tidak utuh lagi. Sebagian atapnya telah runtuh. Catnya mengelupas di sana-sini. Pohon duraian yang berjajar di halaman depan, membuat rumah itu semakin suram.

“Rumah itu dulunya milik orang Belanda. Namanya ibu Deborah. Setelah ibu Deborah meninggal, rumah itu ditunggui oleh Mang Jalil dan anak laki-lakinya, Si Encam. Tapi setahun yang lalu rumah itu terbakar karena listriknya konslet. Mang Jalil dan anaknya meninggal. Sekarang hantu kedua orang itulah yang menunggu rumah itu.” Cerita Darman anak Bi Munah. Bi Munah adalah pembantu di rumah Guntur.

“Memangnya ada yang membuktikan pernah melihat hantu di rumah itu?” tanya Guntur.

“Aku pernah melihat bayangan anak laki-laki berdiri di bawah pohon durian dekat rumah itu.” ujar Darman

Guntur membuka jendela kamarnya. Ia memandang pohon durian yang diceritakan oleh Darman. Dalam keremangan malam, pohon durian yang tinggi menjulang itu tampak seperti sesosok raksasa yang menyeramkan. Dahan-dahannya yang tertiup angin seperti tangan yang menggapai-gapai ingin mencekik siapa saja yang ada didekatnya.

Bulu kuduk Guntur mendadak berdiri. Buru-buru ia menutup jendela kamarnya. Diliriknya jam dinding. Pukul sembilan malam. Kedua orang tuanya belum juga pulang dari acara di kantor. Tadi siang ia mengajak Darman menginap di rumahnya, tapi Continue reading